PENAMUSLIM

Berapa Harga Rumah Dekat Masjid?

6 Maret 2008 · 5 Tanggapan

Terkadang hinggap juga rasa malas-malasan ke masjid. Entah karena hujan atau karena lemahnya iman. Kalau sudah begini jadi berpikir, “Ah enak ya kalau punya rumah dekat masjid. Ga perlu jauh-jauh berjalan”. Dan hal ini memang selalu menjadi pertimbangan kala mencari rumah kontrakan baru (maklum kontraktor, juga nanti kalau sudah mau beli rumah baru, amin :) ). Dekat ngga dengan masjid? Dekat ngga dengan pasar? Banjir ngga dst dst. Kalau anak sudah besar, kedekatan dengan sekolah pasti jadi pertimbangan utama juga.

Tapi ya itu namanya juga nyari rumah kontrakan, paling tidak ada 4 variabel penting yang ikut menentukan. Dana, waktu, kondisi rumah dan keadaan lingkungan. Kalau besarnya dana tidak masalah, pilihan jadi banyak meski waktu sempit. Nah kalau dana sedikit, dan biasanya demikian, maka waktu harus banyak. Untuk muter-muter, tanya-tanya dan nawar-nawar. Juga untuk diskusi dengan istri, biasanya seru diskusinya. Juga harus cepat memutuskan. Kalau tidak bisa-bisa keduluan orang lain. Kalau terkait dengan kondisi rumah, dari pengalaman lima kali pindah kontrakan (ga terhitung pindah-pindah kos-kosan), atap bocor itu “pasti”.

Nah mengenai soal keadaan lingkungan, diatas sempat disebutkan beberapa, kedekatan dengan masjid bisa menjadi aspek pertimbangan yang teramat penting untuk mengontrak rumah apatah lagi untuk membelinya.

Jadi, berapa harga rumah dekat masjid? Kalau ada pertanyaan, seperti biasa, jangan buru-buru dijawab ya. Sebelum memastikan apakah pertanyaan tersebut tepat, relevan dan bernilai. Kalau pertanyaannya sudah tepat, relevan dan bernilai, maka perjuangan dalam mencari jawabannya akan jadi pekerjaan berharga. Jika tidak? Ya tidak. Jadi, ada pertanyaan sebelum pertanyaan.

Tenanglah dahulu terus tanya baik-baik. Memangnya, apa kepentingannya bertanya berapa harga rumah dekat masjid. Untuk membeli rumah dekat masjid yang pintunya tepat berada di depan pintu masjid atau temboknya bersisian dengan tembok masjid? Memang sudah punya dana untuk membeli rumah? Memang harga rumah dekat masjid berbeda dengan harga rumah jauh dari masjid seperti harga rumah dekat jalan besar yang lebih tinggi dari harga rumah jauh dari jalan besar?

Apakah pertanyaan tepat, relevan dan bernilainya baiknya begini saja :

  1. Bagaimana cara cepat punya dana halal untuk membeli rumah yang representatif?
  2. Bagaimana cara agar hati selalu dekat dengan masjid? Bukan cuma rumahnya yang dekat dengan masjid. Toh makin jauh dari masjid makin bertambah juga hitungan pahalanya manakala pergi ke masjid.

Nah, itulah pertanyaan-pertanyaan saya. Btw, pertanyaan Anda sendiri apa?

- Harian Sa -

Kategori: Ekspresi · Masjid

5 tanggapan so far ↓

  • na2nk08 // 11 Maret 2008 pada 12:37 pm | Balas

    Yang bikin rumah mahal tuch bukan karena tempatnya tapi duitnya………

    Yang punya duit & bisa beli pasti bilang murah

    Lha… kayak kita-kita yang duitnya pas-pasan jangankan beli rumah, tempat kos dgn 75rb/bulan aja nunggak-nunggak. He……32x

    Maaf lho bagi yang merasa suka nunggak2 dipersilakan untuk marah……. salam kenal dari na2nk’s

  • inoors // 14 Maret 2008 pada 1:28 pm | Balas

    1. Bagaimana ya..? Saya sih juga pengin punya rumah sendiri. Tapi sama, bagaimana dapetin uang yang halal?

    - Jadi TKI kali ya?

    2. Ironis memang, kita penduduk pribumi mo ngontrak aja susah apalagi beli rumah?

    - Kalo kita keluar negri paling ndak cuman jadi pembantu, tapi kenapa ya kalo orang luar masuk ke indonesia bisa jadi juragan?

    3. Emang sih faktor jarak yang lebih dominan bisa ndeketin hati kita dengan mesjid, tetapi sebenarnya ghiroh ber-Islam kita lah sebagai penentu.

  • kang harja // 27 Maret 2008 pada 10:16 pm | Balas

    sawang-sinawang yo kang?
    yang rumahnya jauh bilang, “enak ya rumah dekat masjid, bisa dengar adzan dengan jelas & bisa segera di shof pertama”.
    sedangkan yang rumahnya dekat bilang, “lebih enak rumah jauh masjid. Bisa jalan meregangkan otot sambil berdzikir waktu berangkat ke masjid, itung-itung nabung pahala”.

    Tapi yang paling enak sih, yang hatinya dekat dgn masjid. Kemanapun dia berada & ketika waktu sholat datang, dia pasti mencari-cari suara panggilan adzan. Nggak peduli suara itu jauh atau dekat, yang penting bagaimana supaya bisa segera memenuhi panggilan sholat itu.
    Lagian, orang yang hatinya dekat masjid itu katanya termasuk salah satu golongan yang mendapat naungan, yang pada waktu itu tidak ada naungan selain naungan-Nya.
    benar ya kang?

    saya usul kang. bagaimana kalo sampeyan nulis lagi -tulisan- mengenai, “bagaimana punya hati yang bisa senantiasa dekat dengan masjid?”

  • Harian Sa // 3 April 2008 pada 3:35 am | Balas

    Setuju kang Harja. Hmm… bagaimana kalo kang Harja yg nulis “bagaimana punya hati yang bisa senantiasa dekat dengan masjid?”

    atau yg lain.
    MAU?

  • USE // 7 April 2008 pada 8:35 am | Balas

    Apa gak lebih enak beli rumah dekat kampus ato mall. Bisa buat kos-kosan. He…..

Tinggalkan sebuah Komentar