
“Rasa belas kasih yang kita curahkan pada mereka tidak membuat mereka berhenti melakukannya malah sebaliknya. Pengemis bukan lagi meminta karena kondisi ekonomi yang sulit melainkan sudah menjadi profesi sehari-hari. Jangan sampai niat baik kita menjadikan mereka tumbuh subur merebak bak jamur dimusim hujan.”
Kata “Pengemis” bukanlah kata yang asing bagi telinga kita. Kata pengemis menurut penulis mempunyai arti orang yang meminta-minta. Hal itu dilakukan biasanya dikarenakan kondisi yang terhimpit, malas dan miskin. Meski itu tak semuanya benar.
Untuk bisa bertemu dengan pengemis sangatlah mudah. Mereka biasanya berada di pemberhentian lampu merah, pasar, terminal, stasiun kereta api, jembatan penyeberangan dan masjid agung/jami’ atau di tempat pemakaman seorang ulama besar.
Seorang pengemis memiliki ciri-ciri yang sangat khas diantaranya adalah berpakaian lusuh (compang camping), berwajah kusam, membawa cepuk/wadah untuk meminta uang, kalau ada orang yang lewat dia memohon belas kasihan agar diberi sedekah berupa uang.
Kalau dilihat kondisi mereka menggugah rasa manusiawi kita untuk saling membantu dan berbelas kasih. Sehingga nurani kita tertuntut untuk menyisihkan sebagian dari rizki guna mengurangi beban hidup mereka.
Kini pengemis menjadi salah satu profesi yang sangat menjanjikan dan terorganisir meski tidak semuanya. Hal ini terbukti yang menjadi pengemis bukan lagi mereka yang sudah lanjut usia. Tak sedikit ibu-ibu muda beserta anak-anaknya yang masih usia sekolah berprofesi sebagai pengemis. Mereka beroperasi tidak hanya siang hari bahkan di malam hari mereka tetap beroperasi. Kondisi ini seakan-akan dengan sengaja dilakukan agar orang iba melihatnya. Apa jadinya bangsa ini bila profesi tersebut diturun-temurunkan kepada anak-anak mereka. Mungkin ini yang menyebabkan jumlah mereka tidak kunjung berkurang namun kian bertambah.
Dari 200 juta penduduk di Indonesia 88%nya adalah pemeluk agama Islam. Sangatlah wajar bila hampir dari pengemis yang kita jumpai adalah seorang muslim. Sepintas kondisi tersebut biasa-biasa saja. Namun hal tersebut menimbulkan image yang kurang baik terhadap Islam. Dan image tersebut kini telah merasuk dan melekat erat dibenak umat Islam sendiri. Sehingga tidak sedikit dari umat Islam enggan dan takut menyekolahkan anaknya di lembaga-lembaga Pendidikan Islam. Alasan mereka pun bermacam-macam ada yang karena jumlah mata pelajarannya banyak, tidak bisa menjadi pegawai negeri yang lebih memprihatinkan ada yang beralasan jika sekolah di lembaga pendidikan Islam hidupnya nanti akan miskin atau tidak bisa kaya. Astaghfirullah.
Apa jadinya generasi muda Islam kita bila image tersebut berkembang? Pastinya akan menjadi generasi muda Islam yang pemalas….. Generasi muda pengemis…. Naudzubillahi min Dzaalik.
Islam tidaklah memberikan tuntunan pada umatnya untuk menjadi pengemis bahkan sebaliknya. Islam mengajarkan umatnya untuk giat bekerja hal ini sesuai dengan hadits yang berbunyi ”bekerjalah kamu untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selama-lamanya dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”. Lain daripada itu sebagai bukti bahwa Islam tidak mengajarkan untuk menjadi pengemis dan dianjurkan untuk suka memberi tertuang dalam hadits nabi yang berbunyi ”tangan di atas (pemberi) lebih baik dari pada tangan (peminta) di bawah”.
Pengemis bukanlah sebuah profesi yang bisa dibanggakan (mulia) namun sebaliknya. Sungguh kondisi yang memprihatinkan. Entah apa yang membuat mereka bertahan dan betah menjadi seorang pengemis. Budayakah…? atau kemiskinankah…? atau yang lain.
Tidak adakah dalam benak mereka untuk mencari penghidupan yang lebih mulia selain menjadi seorang pengemis (hidup dibawah belaskasihan orang lain). Ataukah memang sudah tidak ada lagi tempat dan cara untuk mencari penghidupan yang lebih mulia. Wallahua’lam. Siapakah yang patut untuk disalahkan. Merekakah…? atau Negarakah yang tidak mampu mengayomi mereka…? Belum saatnya kita mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kehadiran mereka merupakan tanggungjawab kita bersama.
Rasa belas kasih yang kita curahkan pada mereka tidak membuat mereka berhenti melakukannya malah sebaliknya. Pengemis bukan lagi meminta karena kondisi ekonomi yang sulit melainkan sudah menjadi profesi sehari-hari. Jangan sampai niat baik kita menjadikan mereka tumbuh subur merebak bak jamur dimusim hujan.
Kini sudah banyak organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga sosial yang amanah dan profesional yang menangani para pengemis untuk diberdayakan. Serta menjadikan para pengemis tersebut sebagai binaan mereka dengan memberikan bantuan berupa santunan dana, pelatihan skill dan bahkan peluang kerja guna mencari penghidupan yang lebih layak dan mulia.
Untuk itu sudah saatnya kita mendukung lembaga-lembaga sosial tersebut baik secara material maupun spiritual. Memberikan dan mempercayakan sebagian dari rizki kita kepada lembaga-lembaga sosial tersebut akan sangat berguna dalam menggali dan memunculkan serta memberdayakan potensi yang tersimpan dalam diri mereka yang mungkin saat ini belum mereka ketahui. Dengan demikian generasi muda Islam yang mulia, suka bekerja keras, beriman dan bertaqwa dapat terwujud.Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Sebagai referensi berikut adalah lembaga-lembaga sosial tersebut diantaranya seperti YDSF, Rumah Zakat, LMI, BAZNAS, BAZIS, LAZNAS, LAZIS NU, LAZIS MU dan lain-lain. Wassalam(rozi).

3 tanggapan so far ↓
Harian Sa // 11 Maret 2008 pada 10:48 am |
“Kini pengemis menjadi salah satu profesi yang sangat menjanjikan …”
– Kalau di indonesia ada profesi yg sangat menjanjikan, biasanya profesional dari luar negri bakal ikut menyerbu. Klo yg ini ada nggak ya?
“…dan terorganisir…”
– Wah jadi ingat perkumpulan pengemis tongkat merah nih
inoors // 14 Maret 2008 pada 11:06 am |
Waaah…! Kalo gitu enaknya ngasih enggak ya? Mau ngasih takut nggak ikut mendidik untuk lebih baik, mau gak ngasih tapi kok kasihan.
- Kalo lihat koment nya saudara Harian Sa, ya mending selektif pas kita ngasih.
- Jika perlu punya intelgent untuk mengawasi mana ya yang perlu dikasih? Tapi saya harus bayar berapa? Ato ada yang mau kagak ya?
veroetoejoeh // 31 Maret 2008 pada 7:05 pm |
kalau gitu enak ya kerja dilembaga sosial, seperti YDSF, berkahnya banyak. Soalnya banyak yang mendoakan.(Kalau amanah pastinya)