<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PENAMUSLIM &#187; Puisi</title>
	<atom:link href="http://penamuslim.wordpress.com/category/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penamuslim.wordpress.com</link>
	<description>Dengan Pena Menggores Sejarah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Dec 2008 19:46:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penamuslim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/180eba360244cdbc254e326ff7575d9e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PENAMUSLIM &#187; Puisi</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://penamuslim.wordpress.com/osd.xml" title="PENAMUSLIM" />
		<item>
		<title>Ust. Rahmat Abdullah</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com/2008/04/16/ust-rahmat-abdullah/</link>
		<comments>http://penamuslim.wordpress.com/2008/04/16/ust-rahmat-abdullah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 16:30:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para Pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kh rahmat abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[sang murobbi]]></category>
		<category><![CDATA[syaikhut tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penamuslim.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

(Rahmat Abdullah)<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=48&subd=penamuslim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div style="text-align:center;"><img src="http://penamuslim.files.wordpress.com/2008/05/ustadz-rahmat-abdullah.jpg" border="2" alt="KH Rahmat Abdullah" /></div>
<p><em>Merendahlah,<br />
engkau kan seperti bintang-gemintang<br />
Berkilau di pandang orang<br />
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi<br />
Janganlah seperti asap<br />
Yang mengangkat diri tinggi di langit<br />
Padahal dirinya rendah-hina</em></p>
<p>(<strong>Rahmat Abdullah</strong>)</p>
<p><span id="more-48"></span></p>
<p>Seperti tak percaya aku mendengar kabar itu: kau sudah pergi untuk selamanya. Dan kenangan demi kenangan berkelebat cepat di benakku, menyisakan satu nama: Rahmat Abdullah. Kita memang tak banyak bertemu, tak banyak bercakap. Tapi percayakah kau, aku menjadikanmu salah satu teladan diri. Kau menjelma salah satu sosok yang kucinta. Tahukah kau, hampir tak ada tulisanmu yang tak kubaca? Dan setelah membacanya selalu ada sinar yang menyelusup menerangi kalbu dan pikiranku. Tidak sampai di situ, buku-bukumu selalu membuatku bergerak. Ya, bergerak!</p>
<p>Kau mungkin tak ingat tentang senja itu. Tapi aku tak akan pernah melupakannya. Saat itu kau baru saja pulang dari rumah sakit untuk memeriksakan kesehatanmu. Aku dan seorang teman menunggumu. Kami membutuhkanmu untuk memberi masukan terhadap apa yang tengah kami kerjakan. Tanpa istirahat terlebih dahulu, dengan senyuman dan kebersahajaan yang khas, kau menemui kami. Tak kau perlihatkan bahwa kau sedang tak sehat. Bahkan kau bawa sendiri makanan dan minuman untuk kami.  Dengan riang kau menyemangati kami.  &#8220;Ini kebaikan yang luar biasa,&#8221; katamu. &#8220;Bismillah. Berjuanglah dengan pena-pena itu!&#8221;</p>
<p>Lalu kami mengundangmu untuk hadir pada acara milad organisasi kecil kami. Sekadar menyampaikan undangan, dan tak terlalu berharap kau datang, karena kami tahu kau sangat sibuk dengan begitu banyak persoalan ummat. Hari itu, bulan Juli 2002, milad ke 5 organisasi kami: Forum Lingkar Pena. Semua panitia direpotkan oleh banyak hal yang harus dikerjakan. Aku masih sempat bertanya pada panitia:  &#8220;Adakah yang menjemput Pak Taufiq Ismail dan Pak Rahmat Abdullah?&#8221;</p>
<p>Panitia menggeleng. Banyak yang harus dikerjakan. Tak ada mobil atau tenaga untuk menjemput. Sudahlah, pikirku. Pak Taufiq dan Pak Rahmat terlalu besar untuk hadir di acara seperti ini.</p>
<p>Aku hampir melompat ketika melihat Pak Taufiq Ismail datang sendirian dengan taksi dan menyapa kami riang. Dan aku tak percaya ketika tak lama kemudian kau muncul! &#8220;Ustadz, terimakasih sudah datang. Kami tidak menyangka&#8230;,&#8221; sambutku.<br />
Kau tersenyum. &#8220;Saya sudah agendakan untuk datang,&#8221; katamu. &#8220;Ini acara FLP. Istimewa.&#8221; Mataku berkaca. Ini ustadz Rahmat Abdullah, ia terbiasa diundang sebagai pembicara dalam berbagai acara nasional sampai internasional. Dan kini ia sudi hadir sebagai undangan biasa!</p>
<p>&#8220;Maaf ustadz tidak dijemput. Ustadz naik apa tadi?&#8221; Naik bis. Tempatnya mudah dicari,&#8221; katamu biasa.</p>
<p>Kau sempat turut memberikan award dalam acara tersebut dan memimpin doa penutup. Aku menangis mendengar doa yang kau lantunkan, Ustadz. Kau berulangkali mendoakan agar organisasi kami: FLP selalu bisa melahirkan para pemuda yang tak akan berhenti berjuang dengan pena&#8230;. Pada akhir acara, kau turut berjongkok bersama para pemuda lainnya dan menandatangani spanduk yang kami gelar bertuliskan &#8220;Sastra untuk Kemanusiaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya mencintai sastra dan suka membuat puisi,&#8221; ceritamu.  Hari itu kehadiranmu benar-benar memberi semangat baru bagi kami.</p>
<p>Ustadz, aku selalu mengenangmu sebagai suami dan ayah yang baik dalam keluarga. Sebagai guru sejati bagi ribuan da&#8217;i. Dan ketika kau terpilih menjadi anggota DPR RI tahun 2004 lalu, tak ada yang berubah darimu, kecuali usaha yang lebih keras untuk membuat rakyat tersenyum. Dalam keadaanmu yang sederhana, kau tak berhenti memberi zakat dan infaq dari gajimu. Kau satu dari sedikit orang yang pernah kutemui, yang sangat berhati-hati dengan amanah dan berjuang untuk menunaikannya tanpa cacat. Ah, pernahkah kau meminta tarif untuk mengisi ceramah? Tak ada. Kau bahkan pernah berkata: &#8220;Alhamdulillah ada lagi orang yang mau mendengarkan taushiyah dari hamba Allah yang lemah ini.&#8221;</p>
<p>Terakhir kali kita bertemu, Ustadz, di sebuah jalan raya, sekitar akhir tahun lalu. Dan aku tak percaya, kau—anggota dewan yang terhormat&#8212; masih saja menyetop kopaja. Kini dalam usia 53 tahun, kau pun kembali untuk selamanya. Ribuan orang, tak terhingga orang, datang mengiringi untuk terakhir kali, sambil tak henti bersaksi tentang keindahanmu.<br />
Selamat jalan, Ustadz. Jalan kebaikan dan cinta yang selalu kau tempuh di dunia, semoga mengantarkanmu ke gerbang yang paling indah di sisiNya. Amiin. (Helvy Tiana Rosa)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penamuslim.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penamuslim.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penamuslim.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penamuslim.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penamuslim.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penamuslim.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penamuslim.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penamuslim.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penamuslim.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penamuslim.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penamuslim.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penamuslim.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=48&subd=penamuslim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penamuslim.wordpress.com/2008/04/16/ust-rahmat-abdullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a3ed16ccb507ffd0cea78706528168e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Harian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penamuslim.files.wordpress.com/2008/05/ustadz-rahmat-abdullah.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">KH Rahmat Abdullah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muhammad Natsir Ditulis</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com/2008/02/29/muhammad-natsir-ditulis/</link>
		<comments>http://penamuslim.wordpress.com/2008/02/29/muhammad-natsir-ditulis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Feb 2008 06:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Para Pejuang]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penamuslim.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Rasanya tak cukup kata dan tinta untuk menuliskan lika-liku perjuangan para pahlawan Islam. Demikan juga dengan kiprah perjuangan Muhammad Natsir. Buya Hamka yang selain dikenal sebagai ulama juga seorang sastrawan, kita mengenal salah satu novelnya Dibawah Lindungan Ka&#8217;bah yang difilmkan, menulis sebuah puisi untuk pak Natsir.
Saat itu berlangsung Sidang Konstituante (1957). Pak Natsir berpidato di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=13&subd=penamuslim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Rasanya tak cukup kata dan tinta untuk menuliskan lika-liku perjuangan para pahlawan Islam. Demikan juga dengan kiprah perjuangan <a title="Sekilas DR. Muhammad Natsir" href="http://penamuslim.wordpress.com/2008/02/21/sekilas-dr-muhammad-natsir/">Muhammad Natsir</a>. Buya Hamka yang selain dikenal sebagai ulama juga seorang sastrawan, kita mengenal salah satu novelnya Dibawah Lindungan Ka&#8217;bah yang difilmkan, menulis sebuah puisi untuk pak Natsir.</p>
<p>Saat itu berlangsung Sidang Konstituante (1957). Pak Natsir berpidato di Sidang Konstituante memaparkan kelemahan sekularisme. Dikatakannya sekularisme sebagai paham tanpa agama (<em>la diiniyah</em>). Sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya di dalam batas keduniaan.<span id="more-13"></span></p>
<p>”<em>Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka</em>”.</p>
<p>”<em>Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?”</em></p>
<p>Dalam pidato di Majlis Konstituante itu Muhammad Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI. Buya Hamka pun terpana dengan pidato Natsir itu, sampai menuliskan sebuah puisi khusus untuk Natsir.</p>
<blockquote><p><strong>Kepada Saudaraku M. Natsir</strong></p>
<p>Meskipun bersilang keris di leher<br />
Berkilat pedang di hadapan matamu<br />
Namun yang benar kau sebut juga benar</p>
<p>Cita Muhammad biarlah lahir<br />
Bongkar apinya sampai bertemu<br />
Hidangkan di atas persada nusa<br />
Jibril berdiri sebelah kananmu<br />
Mikail berdiri sebelah kiri<br />
Lindungan Ilahi memberimu tenaga</p>
<p>Suka dan duka kita hadapi<br />
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu<br />
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi<br />
Ini berjuta kawan sepaham<br />
Hidup dan mati bersama-sama<br />
Untuk menuntut Ridha Ilahi<br />
Dan aku pun masukkan<br />
Dalam daftarmu &#8230;&#8230;.!</p>
<blockquote><p>(Ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante.)</p></blockquote>
</blockquote>
<p>Dan aku pun masukkan. Dalam daftarmu &#8230;&#8230;.!</p>
<p>Daftar apakah itu? Mau mendaftar apa Buya Hamka? Apakah itu daftar para syuhada dan sholihin? Ah, mau benar saya masuk dalam daftar itu. <em>Wa antum?</em></p>
<p>- <em>Harian Sa</em> -</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/penamuslim.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/penamuslim.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penamuslim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penamuslim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penamuslim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penamuslim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penamuslim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penamuslim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penamuslim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penamuslim.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penamuslim.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penamuslim.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=13&subd=penamuslim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penamuslim.wordpress.com/2008/02/29/muhammad-natsir-ditulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a3ed16ccb507ffd0cea78706528168e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Harian</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>