<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>PENAMUSLIM &#187; Pustaka</title>
	<atom:link href="http://penamuslim.wordpress.com/category/pustaka/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penamuslim.wordpress.com</link>
	<description>Dengan Pena Menggores Sejarah</description>
	<lastBuildDate>Mon, 01 Dec 2008 19:46:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='penamuslim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/180eba360244cdbc254e326ff7575d9e?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>PENAMUSLIM &#187; Pustaka</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://penamuslim.wordpress.com/osd.xml" title="PENAMUSLIM" />
		<item>
		<title>Cermat Memilih Lembaga Amil Zakat</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com/2008/11/03/cermat-memilih-lembaga-amil-zakat/</link>
		<comments>http://penamuslim.wordpress.com/2008/11/03/cermat-memilih-lembaga-amil-zakat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 19:38:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penamuslim.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Meski dalam artikel kemarin dimuat himbauan agar berzakat lewat Lembaga Amil Zakat (LAZ) dibandingkan dilakukan secara perorangan, tetap perlu dicermati LAZ yang mana yang tepat untuk menyalurkan zakat kita. Saat ini LAZ ada beraneka rupa. Pilihannya jadi banyak, tak hanya panitia zakat di masjid dekat rumah, juga LAZ yang bahkan kantornya tidak ada di kota/kabupaten [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=88&subd=penamuslim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignnone size-medium wp-image-135" title="amil-zakat" src="http://www.agusharian.com/sa/wp-content/uploads/2008/09/amil-zakat.jpg" alt="" width="93" height="61" />Meski dalam artikel kemarin dimuat himbauan agar berzakat lewat Lembaga Amil Zakat (LAZ) dibandingkan dilakukan secara perorangan, tetap perlu dicermati LAZ yang mana yang tepat untuk menyalurkan zakat kita. Saat ini LAZ ada beraneka rupa. Pilihannya jadi banyak, tak hanya panitia zakat di masjid dekat rumah, juga LAZ yang bahkan kantornya tidak ada di kota/kabupaten tempat kita tinggal. Bila kita di pelosok Papua, kita dapat saja menitipkan zakat, infaq ataupun shodaqoh ke LAZ di Jakarta atau Surabaya. Tinggal transfer saja. Mudah.<span id="more-88"></span></p>
<p>Kembali saya kutip dari Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri, MA. Berikut beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam memilih Lembaga Amil Zakat:</p>
<ol>
<li>Amanah dan terpercaya, baik bagi pihak muzakki (pembayar zakat) maupun mustahiq (penerima zakat).</li>
<li>Profesional dalam manajemen operasional pengelolaan maupun jajaran SDM-nya.</li>
<li>Transparan dan memenuhi kriteria standar audit.</li>
<li>Memiliki dewan syariah yang kompeten sebagai pengawal, pengawas, dan rujukan syar’i bagi lembaga dalam menunaikan amanat umat.</li>
<li>Berpengalaman panjang dalam bidang pengelolaan dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Waqaf) dari umat dan untuk umat.</li>
<li>Memiliki wilayah jangkauan operasional yang luas.</li>
<li>Memenuhi unsur legal formal sebagai lembaga pengelola ZISWAF sehingga akan lebih leluasa dalam berkiprah ditengah-tengah masyarakat.</li>
</ol>
Posted in Pustaka  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penamuslim.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penamuslim.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penamuslim.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penamuslim.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penamuslim.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penamuslim.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penamuslim.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penamuslim.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penamuslim.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penamuslim.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=88&subd=penamuslim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penamuslim.wordpress.com/2008/11/03/cermat-memilih-lembaga-amil-zakat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a3ed16ccb507ffd0cea78706528168e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Harian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.agusharian.com/sa/wp-content/uploads/2008/09/amil-zakat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">amil-zakat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taqobbalallahu Minna Wa Minkum?</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/30/taqobbalallahu-minna-wa-minkum/</link>
		<comments>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/30/taqobbalallahu-minna-wa-minkum/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 21:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penamuslim.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Saat Lebaran menjelang, tradisi diantara kita (di Indonesia) adalah saling memberikan ucapan selamat. Baik secara langsung maupun tidak. Media seperti kartu lebaran dan SMS menjadi pilihan untuk berkirim ucapan. Ada yang sekadar bilang Selamat Ied/Lebaran, yang lebih lengkap Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H misalnya. Banyak yang mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=74&subd=penamuslim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Saat Lebaran menjelang, tradisi diantara kita (di Indonesia) adalah saling memberikan ucapan selamat. Baik secara langsung maupun tidak. Media seperti kartu lebaran dan SMS menjadi pilihan untuk berkirim ucapan. Ada yang sekadar bilang Selamat Ied/Lebaran, yang lebih lengkap Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1429 H misalnya. Banyak yang mengucapkan <em>Minal Aidin Wal Faizin </em>(ada pula yang menuliskan  Minal Aizin Wal Faizin), yang biasanya orang mengucapkan ini dengan maksud minta maaf lahir batin karena mengira artinya demikian. Biasanya dilengkapi dengan Mohon Maaf Lahir dan Batin. Tetapi ada pula yang mencukupkan diri dengan do&#8217;a <em>Taqobbalallahu Minnaa Wa Minkum </em>(dan sering pada penulisan <em>taqobbalallahu</em> didapati kesalahan). Tapi tahukah Anda bahwa ucapan-ucapan seperti Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin dan Taqobbalallhu Minna Wa Minkum bukanlah ucapan yang berasal dari Nabi Muhammad SAW?<span id="more-74"></span></p>
<p>Saya juga tidak tahu sebelumnya. Baiklah saya kutipkan saja 2 buah artikel yang diambil dari rubrik konsultasi di eramuslim yang diasuh oleh Ahmad Sarwat, Lc.</p>
<blockquote><p>Makna Ungkapan Minal Aidin Walfaizin<br />
dan Dasar Perintah Bersalaman Saat Lebaran<br />
(10/11/2005 11:52 WIB)</p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr Wb</p>
<p>Ustadz yang terhormat, saya ingin bertanya,<br />
1. Apa sih makna MINAL AIDIN WAL FAIDZIN? Biasanya adat kita menyebutkannya saat lebaran sambil salaman, apa dalilnya?<br />
2. Salam-salaman saat Idul fithri apakah dicontohkan Rasul?</p>
<p>Wa&#8217;alaikumsalam Wr Wb</p>
<p>Opick</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wa barakatuh<br />
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du</p>
<p>1. Kata minal aidin wal faizin itu sebenarnya sebuah ungkapan harapan atau doa. Tapi masih ada penggalan yang terlewat. Seharusnya lafadz lengkapnya adalah ja&#8217;alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin, artinya semoga Allah menjadikan kami dan anda sebagai orang-orang yang kembali dan beruntung (menang).</p>
<p>Ungkapan ini adalah salah satu ungkapan yang seringkali diucapkan pada hari raya fithri. Sama sekali tidak bersumber dari sunnah nabi, melainkan merupakan &#8216;urf (kebiasaan) yang ada di suatu masyarakat. Makna yang terkandung di dalamnya sebuah harapan agar Ramadhan yang telah kita jalani benar-benar bernilai iman dan ihtisab, sehingga kita saling mendoakan agar<br />
dikembalikan kepada kesucian, dalam arti bersih dari dosa-dosa. Kembali seperti awal mula kita dilahirkan oleh ibu kita masing-masing, putih, bersih tanpa dosa. Itulah makna kembali (aidin). Sedangkan makna faizin adalah menjadi orang yang menang atau beruntung. Menang karena berhasil mengalahkan hawa nafsu, sedangkan beruntung karena mendapatkan pahala yang berkali lipat dan dimusnahkan semua dosa.</p>
<p>Kalau melihat lafadz ungkapan seperti ini, nampaknya yang layak mendapatkannya hanyalah orang-orang yang sukses dalam menjalani Ramadhan dengan benar. Sedangkan mereka yang lalai, meninggalkan puasa atau tidak merasakan nikmat ibadah di bulan Ramadhan, rasanya kurang pas mengungkapkan lafadz seperti ini, bukan?</p>
<p>Di setiap negeri muslim, ungkapan-ungkapan ini bisa saja sangat berbeda, tergantung kreatifitas masyarakatnya sendiri.</p>
<p>Namun bila tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, bukan berarti memberikan ucapan yang semikian menjadi terlarang atau haram. Sebab umumnya para ulama mengatakan bahwa masalah ini tidak termasuk perkara ritual ubudiyah, sehingga tidak ada larangan untuk mengungkapkan perasaan dengan gaya bahasa kita masing-masing.</p>
<p>Kira-kira sama halnya dengan corak model pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Tiap negeri muslim pasti punya corak dan model yang berbeda dengan yang lainnya. Dan keberagaman itu tidak mencerminkan derajat ketaqwaan dan keiltizaman mereka terhadap sunnah nabi. Sebab masalah corak dan potongan busana tidaklah merupakan ketetapan baku dalam syariat Islam.<br />
Bahwa Rasulullah SAW diriwayatkan pernah mengenakan pakaian dengan model potongan tertentu, tidaklah sampai kepada kesimpulan bahwa yang tidak berpakaian dengan model potongan beliau menjadi ahli bid&#8217;ah.</p>
<p>2. Sedangkan bersalam-salaman memang tidak ada perintah secara khusus untuk dilakukan pada hari raya fithri. Namun secara umum, bila dua orang muslim bertemu, bersalaman adalah hal yang dianjurkan. Jadi ketika kita berkunjung ke rumah teman atau famili, tentu saja ketika bertemu kita umumnya melakukan salaman.</p>
<p>Dari Al-Barra&#8217; bin &#8216;Azib ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,&#8221;Bila dua orang muslim bertemu lalu mereka saling bersalaman dan memuji Allah SWT serta meminta ampun kepada-Nya, maka keduanya diampuni sebelum keduanya berpisah.(HR Abu Daud)</p>
<p>Dari Anas bin Malik ra. berkata bahwa para shahabat nabi SAW bila bertemu, mereka saling bersalaman. Dan bila datang dari perjalanan mereka saling berpelukan.</p>
<p>Dan itu saja sudah cukup, tidak perlu lagi mengadakan upacara khusus untuk bersalaman hingga membuat ular yang panjang. Sebab memang tidak ada perintah secara khusus untuk melakukannya. Dan kalaupun masih ingin bersalaman agar bisa rata pada setiap orang, tidak harus dilakukan dalam kesempatan lebaran saja. Sebab anjuran untuk bersalaman tidak terkait<br />
dengan suasana lebaran saja, melainkan dalam setiap kesempatan.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bish-shawab, Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wa barakatuh</p>
<p>Ahmad Sarwat, Lc</p></blockquote>
<blockquote>
<p>Apa Arti Taqabballahu Minna Waminkum dan Hukumnya?<br />
(11/11/2005 10:03 WIB)</p>
<p>Assalamua&#8217;alaikum Warahmatullah Wabaraktuh</p>
<p>Pak, saya mau tanya. Artinya Taqabballahu Minna Waminkum, Taqabbal Yaa<br />
Kariim itu apa ya? seharusnya yang kita ucapkan sewaktu hari Raya Idul<br />
Fitri itu apa? Apakah doa di atas atau Minal Aidzin Wal Faidzin? Sekian<br />
pertanyaan saya, terima kasih banyak.</p>
<p>Waassalamua&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.</p>
<p>Lisa</p>
<p>Jawaban:</p>
<p>Assalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wa barakatuh<br />
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu &#8216;ala rasulillah, wa ba&#8217;du</p>
<p>Diantara sekian banyak ungkapan atau ucapan selamat (arab: tahni&#8217;ah) dalam suasana hari &#8216;Ied Al-Fithr, nyaris semuanya tidak ada riwayatnya yang berasal dari Rasulullah SAW. Kecuali lafadz taqabbalallahu minaa wa minka, yang maknanya, &#8220;Semoga Allah SWT menerima amal kami dan amal Anda.&#8221;</p>
<p>Namun riwayat yang menyebutkan hal ini oleh banyak ulama tidak lepas dari kritik. Salah satunya adalah Al-Baihaqi yang mendhaifkannya. Beliau membuat satu bab khusus dalam kitabnya, As-Sunan Al-Kubra, dinamai bab itu dengan &#8220;Bab apa-apa yang diriwayatkan tentang ucapan sesama orang-orang pada hari &#8216;Ied: taqabbalallahu minaa wa minka.&#8221; Di dalam bab tersebut, Al-Baihaqi menyebutkan banyak hadits yang berisikan lafadz tersebut, namun</p>
<p>beliau mendhaifkan hadits-hadits itu. Sebagai gantinya beliau menuliskan sebuah riwayat yang bukan hadits dari Rasulullah SAW, melainkan hanya riwayat yang menjelaskan bahwa Khalifah</p>
<p>Umar bin Abdul Aziz mendiamkan ungkapan tersebut. Bahwa Adham maula Umar bin Abdil Aziz berkata,&#8221;Dahulu kami mengucapkan kepada Umar bin Abdil Aziz pada hari &#8216;Ied, &#8220;taqabbalallahu minaa wa minka, ya amiral mukminin&#8221;, maka beliau pun menjawabnya dan tidak mengingkarinya. (Lihat As-Sunan Al-Kubra, oleh Al-Baihaqi jilid 3 halaman 319).</p>
<p>Tapi sebagaimana kita ketahui bersama, meski sebuah hadits itu dianggap dha&#8217;if, tapi selama tidak sampai tingkat kedhaifan yang parah, masih bisa dijadikan landasan amal dalam hal-hal yang bersifat keutamaan. Maksudnya, meski dha&#8217;if tetapi tidak palsu, jadi hanya lemah periwayatannya tetapi tetap hadits juga. Dan jumhur ulama pada umumnya bisa menerima hadits dha&#8217;if asal tidak terlalu parah, paling tidak untuk sekedar menjadi penyemangat dalam keutamaan amal-amal (fadhailul a&#8217;mal).</p>
<p>Apalagi bila kita merujuk kepada landasan syar&#8217;i tentang pengucapan selamat kepada seseorang, yang dalam bahasa arab disebut dengan istilah tahni&#8217;ah. Sebenarnya syariat Islam punya landasan syar&#8217;i secara umum. Yaitu yang bersumber dari peristiwa diterimanya taubat seorang shahabat nabi SAW, yaitu Ka&#8217;ab bin Malik. Saat Allah mengumumkan bahwa taubatnya<br />
diterima, berduyun-duyun para shahabat yang lain bahkan termasuk Rasulullah SAW ikut memberikan ucapan selamat.</p>
<p>Sekedar menyegarkan ingatan, shahabat Ka&#8217;ab bin Malik adalah salah satu di antara mereka yang membolos tidak ikut perang Tabuk. Lalu sebagai hukumannya, beliau diboikot untuk tidak boleh diajak berbicara bahkan diasingkan selama beberapa lama. Setelah selesai masa hukumannya, Allah SWT kemudian menerima taubatnya. Saat itu kemudian Rasulullah SAW pun ikut memberikan ucapan selamat.</p>
<p>Ketika Aku mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, beliau sambil menurunkan wajahnya karena bahagia bersabda,&#8221;Berbahagialah dengan hari terbaik yang melawatimu semenjak kamu dilahirkan ibumu.&#8221; (HR Bukhari)</p>
<p>Maka ucapan selamat itu datang dari mulut nabi SAW sebagai ungkapan ikut berbahagia yang sedang dirasakan oleh Ka&#8217;ab saat itu. Dan sebenarnya, siapapun sah-sah saja mengungkan rasa turut berbahagia dengan beragam ungkapan, tanpa harus diatur-atur secara baku. Sebagaimana setiap orang dibolehkan mendoakan temannya dengan lafadz yang disukainya.</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam bish-shawab, Wassalamu &#8216;alaikum warahmatullahi wa barakatuh<br />
Ahmad Sarwat, Lc</p></blockquote>
Posted in Pustaka  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penamuslim.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penamuslim.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penamuslim.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penamuslim.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penamuslim.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penamuslim.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penamuslim.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penamuslim.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penamuslim.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penamuslim.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=74&subd=penamuslim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/30/taqobbalallahu-minna-wa-minkum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a3ed16ccb507ffd0cea78706528168e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Harian</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berdo&#8217;alah Hai Orang Berpuasa</title>
		<link>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/19/berdoalah-hai-orang-berpuasa/</link>
		<comments>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/19/berdoalah-hai-orang-berpuasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Sep 2008 07:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Harian</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penamuslim.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[
&#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221; 
(QS Al Baqarah 2:186)

Berdasar pada ujung ayat di atas, maka jadikanlah bulan puasa itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=65&subd=penamuslim&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="size-large wp-image-66 alignleft" title="al-baqarah186" src="http://penamuslim.files.wordpress.com/2008/09/al-baqarah186.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></p>
<p>&#8220;<em>Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221; </em></p>
<p>(QS Al Baqarah 2:186)</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p>Berdasar pada ujung ayat di atas, maka jadikanlah bulan puasa itu sebuah bulan yang penuh dengan ibadat, membaca Al Qur&#8217;an, shalat dan berdoa. Oleh karena doa adalah penting, menjadi otak dari ibadat, berkenanlah Tuhan memberitahukan tentang doa dan bagaimana sambutan-Nya jika hamba-Nya berdoa menyeru nama-Nya dan memohonkan sesuatu.</p>
<p>Terang sekali ayat ini, tidak berbelit-belit.</p>
<p>Pertama, Tuhan itu dekat.</p>
<p>&#8220;Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat.&#8221;</p>
<p>Dia tidaklah jauh, dan lantaran Dia tiada jauh dari sisimu tidak usah kamu bersorak keras-keras memanggil-manggil namaNya:</p>
<p>&#8220;Ya Allah! Ya Allah! Tolonglah aku, bantulah aku!&#8221;</p>
<p>Apa guna suara keras demikian, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada urat lehermu sendiri? Mengapa keras-keras, padahal Dia bukan pekak?</p>
<p>Lantaran Dia dekat, tidaklah perlu memakai orang perantaraan atau wasilah. Yang penting ialah memohon langsung kepada-Nya, jangan memakai perantaraan. Kalau Dia sendiri telah menyatakan Dia dekat, guna apa kita mencari perantaraan lagi?</p>
<p>Tuhan telah menutup pintu yang lain. Tuhan menyuruh kita langsung kepada-Nya. Tuhan telah menjelaskan di sini, kepada-Ku saja, supaya permohonanmu terkabul. Sedang dalam ayat tidak sedikitpun terbayang bahwa permohonan baru dikabulkan Tuhan kalau disampaikan sengan perantaraan Syaikh Anu atau Saiyid Fulan!</p>
<p>Kedua, segala permohonan dari hamba-Nya yang memohon akan mendapat perhatian yang sepenuhnya dari-Nya. Tidak ada satu permohonanpun yang bagai air jatuh ke pasir, hilang saja sia-sia. Karena tidak didengar atau tidak diperdulikan.</p>
<p>&#8220;Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku&#8221;</p>
<p>Ketiga, supaya permohonan itu mendapat perhatian Ilahi, hendaklah si hamba yang memohon itu menyambut pula terlebih dahulu bimbingan dan petyunjuk yang diberikan Tuhan kepada-Nya.</p>
<p>&#8220;Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.&#8221;</p>
<p>Keempat, dan amat penting. Yaitu hendaklah percaya benar-benar, beriman benar-benar kepada Tuhan.</p>
<p>Kelima, dengan sebab menyambut seruan Tuhan, dan percaya penuh kepada Tuhan, si hamba akan diberi kecerdikan. Si hamba akan diberi petunjuk jalan yang akan ditempuh hingga tidak tersesat dan tidak berputus asa.</p>
<p>Menyambut seruan Tuhan dan iman kepada Tuhan adalah jalan satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Apabila sudah dekat, Tuhanpun berjanji akan memberikan petunjuk sehingga menjadi orang yang cerdik cendekia, arif bijaksana.</p>
<p>Dalam mengerjakan puasa, dilatihlah dia dalam ibadat dan doa.</p>
<p>Bertambah ma&#8217;rifat kepada Tuhan bertambah pulalah tertanam rasa ikhlas dan tawakkal. Ikhlas, yaitu jujur dan tulus. Tawakkal ialah menyerah dengan tidak separoh hati. Dan kalau mendapat percobaan iman, dapatlah bertahan dengan sabar.</p>
<p>Orang yang telah cerdik bukanlah mendiktekan Tuhan, Ya Alllah, beri saya itu! Ya Allah, hindarkan dari saya ini!</p>
<p>Apa yang diminta kepada Tuhanpun menjadi ukuran dari kecerdikan yang meminta. Karena kalau hamba yang menentukan apa yang diminta, kalau tidak diberi apa yang dimintanya itu, diapun kecewa. Inilah tanda orang yang tidak cerdik. Atau jangan menentukan sendiri masa bila akan diberi. Karena kalau terlambat diberi, timbul lagi omelan. Padahal lambat atau cepat hanyalah ukuran keinginan.</p>
<p>Dalam meminta atau berdoa kepada Tuhan, mintalah modal yang besar dan kokoh. Bukan benda, tetapi dapat menghasilkan benda. Doa-doa yang berasal dari Nabi adalah yang sebaik-baik doa. Kalau tidak pandai bahasa Arabnya, bolehlah dengan bahasa kita sendiri, asal dengan ikhlas.</p>
<p>Cara Nabi Ayub berdoapun patut ditiru. Ketika sudah demikian besar malapetaka yang menimpa dirinya, doanya hanya demikian:</p>
<p>&#8220;(Ya Tuhanku), Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang&#8221;</p>
<p>(QS 21:83)</p>
<p>Nabi Ibrahimjuga seketika menuju Tuhan bahwaTuhanlah yang memberinya makan dan memberinya minum, selanjutnya tentang sakit, lain susun katanya:</p>
<p>&#8220;(Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan Aku, Maka Dialah yang menunjuki Aku, Dan Tuhanku, yang Dia memberi Makan dan minum kepadaKu, Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan Aku.&#8221;</p>
<p>(QS 26:78-80)</p>
<p>Nabi Ibrahim tidak mengatakan Dia yang menyakitkan daku, Dia pula yang menyembuhkan. Dia hanya mengatakan, kalau aku sakit, Dia yang menyembuhkan.</p>
<p>Maka menyambut seruan Tuhan dan percaya penuh kepada Tuhan adalah latihan diri untuk merasai bahwa benar-benarlah Tuhan itu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Kesempatan melatih diri inilah yang diutamakan dalam mengerjakan puasa. Sehingga derajat dan martabat kita dinaikkan Tuhan, ke<br />
dekat-Nya.</p>
<p>Untuk mengetahui latar belakang dari sebabnya turun ayat yang penting ini, baiklah kita ketahui riwayat-riwayat yang diterima berhubungan dengan dia.</p>
<p>Menurut riwayat dari Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh dan Ibnu Mardawaihi yang mereka terima dari riwayat as-Shalt bin Hakim, yaitu seorang sahabat Anshar, yang diterima pula dari ayahnya dan ayahnya menerima dari neneknya, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah saw:</p>
<p>&#8220;Ya Rasulullah, apakah Tuhan kita itu dekat dari kita, sehingga dapat kita seru dengan suara lembut, ataukah Dia jauh, sehingga kita  Dia dengan suara keras?&#8221;</p>
<p>Mendengar pertanyaan itu, Nabipun terdiam. Lalu turunlah ayat ini, yang menerangkan bahwa Tuhan itu amat dekat kepada kita. Dengan keterangan ayat ini terjawablah pertanyaan itu dan terjawab pulan pertanyaan dari kebanyakan manusia.</p>
<p>Dan tersebut lagi di dalam sebuah hadits yang dirawikan oleh Bukhari dari Abu Hurairah:</p>
<p>&#8220;Permohonan kamu akan dikabulkan oleh Tuhan , selama kamu tidak mendesak-desak. Dia berkata: Aku telah mendoa, tetapi doaku tidak diperkenankan.&#8221;</p>
<p>Di dalam hadits lain pula, yang dirawikan oleh Bukhari dari hadits Abi Said al-Khudri, bahwa Nabi pernah bersabda:</p>
<p>&#8220;Tidaklah mendoa muslim dengan doa, yang doa itu tidak dicampuri maksud jahat (dosa) atau memutuskan silaturahmi, melainkan pastilah doa itu akan dikabulkan Tuhan dengan menempuh satu dari tiga cara. Adakalanya doa itu diperkenankan dengan cepat, adakalanya disimpan dahulu untuk persediaannya<br />
di hari akhirat, dan aadakalanya dipalingkan daripadanya kejahatan yang seumpamanya.&#8221;</p>
<p>Di dalam suatu hadits lagi ada tersebut bahwasanya lambatnya atau cepatnya akan terkabul suatu doa dari seorang hamba adalah menjadi rahasia juga daripada kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Di situ disebutkan bahwa kadang-kadang, oleh karena kasih sayang Tuhan pada seorang hamba, lama baru<br />
permohonannya dikabulkan. Karena Tuhan amat kasih kepadanya, Tuhan hendak mendengar seruannya selalu.</p>
<p>Tetapi orang yang berdoa, lalu segera permohonanya dikabulkan, ialah karena Tuhan telah bosan dengan dia. Tuhan bersabda kepada malaikat:</p>
<p>&#8220;Berikan saja cepat-cepat apa yang dimintanya. Karena yang diharapkannya bukan Daku, melainkan pemberian-Ku.&#8221;</p>
<p>Dapatlah kita perhatikan orang yang lama di dalam percobaan suatu sengsara. Dia selalu mendoa, dia selalu berharap, tetapi pengharapannya belum kunjung dikabulkan. Ada orang yang oleh karena suatu fitnah dan kezaliman, bertahun-tahun lamanya ditahan. Lama baru permohonannya terkabul. Tetapi di masa yang lama itu dia sudah dapat membentuk diri, sehingga dia mempunyai kepribadian agama yang kuat dan kokoh. Penahanannya bertahun-tahun itu membuatnya menjadi seoarng muslim dan mukmin yang kuat, yang sebelum ditahan dia belum pernah merasainya. Dan ada pula orang yang sebelum matang imannya, diapun keluar dari tahanan. Sampai di luar diapun lupa kepada Tuhan.</p>
<p>Cobalah kita perhatikan!</p>
<p>Ayat yang sebuah ini terletak di tengah-tengah, ketika membicarakan dari hal puasa dan hukum-hukumnya. Dilihat sepintas lalu, seakan-akan tidak ada hubungan ayat ini dengan yang sebelumnya, atau yang sesudahnya. Padahal erat sekali hubungan itu.</p>
<p>Sebab doa orang yang berpuasa itu lebih dekat dikabulkan, sebagaimana yang dirawikan oleh Imam Abu Daud at-Thayalisi dalam musnadnya, diterima daripada Abdullah bin Umar. Beliau berkata: &#8220;Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda:</p>
<p>&#8220;Bagi orang yang berpuasa itu, seketika dia berbuka adalah doa yang mustajab&#8221;</p>
<p>Dan terdapat pula sebuah hadits dalam musnad Imam Ahmad dan Sunan an-Nasa&#8217;i dan Tirmidzi dan Ibnu Majah, diterima daripada Abu Hurairah ra, berkata dia: Berkata Rasulullah saw:</p>
<p>&#8220;Bertiga yang doanya tidak akan ditolak: imam yang adil, orang yang puasa sampai dia berbuka, dan orang yang teraniaya.&#8221;</p>
<p>Dari kedua hadits ini, dan ada juga hadits-hadits lain yang sama maksudnya dapatlah difahami bahwa ayat ini tidaklah terpisah dari ayat yang sebelum dan sesudahnya, bahkan menjadi intinya. Yaitu bahwa latihan yang berhasil dari orang yang puasa terhadap jiwanya sendiri menyebabkan dia dekat kepada Tuhan.</p>
<p>Dan lantaran dekat itu, doanya mudah dikabulkan.</p>
<p>Sumber:<br />
Tafsir Al Azhar<br />
Prof. Dr. Hamka</p>
Posted in Pustaka  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/penamuslim.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/penamuslim.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/penamuslim.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/penamuslim.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/penamuslim.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/penamuslim.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/penamuslim.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/penamuslim.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/penamuslim.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/penamuslim.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=penamuslim.wordpress.com&blog=2602971&post=65&subd=penamuslim&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penamuslim.wordpress.com/2008/09/19/berdoalah-hai-orang-berpuasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4a3ed16ccb507ffd0cea78706528168e?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Harian</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://penamuslim.files.wordpress.com/2008/09/al-baqarah186.jpg?w=500" medium="image">
			<media:title type="html">al-baqarah186</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>